Oleh: dgtola | 28 Juni 2008

Diklat SIMPEG Online yang luar biasa (di luar kebiasaan)

Saya dengan pak Rahim, A.Md. di utus oleh kantor
(BKD-Gowa) untuk mengikuti diklat Simpeg Online
(atau SAKP, sistem aplikasi kenaikan pangkat)
di Stia-Lan Antang dari tanggal 23-25 juni 2008.

Diklat ini berjudul “Diklat Operasional
Aplikasi Simpeg Online”, yang notabene katanya
ini yang sekarang dipakai oleh Kab. Bantaeng.

Sekedar informasi, pada tgl 23 Juni 2008
Bkd Bantaeng telah meresmikan Simpeg-nya yang
online langsung ke BKN kanreg IV, melalui
koneksi Leased Line / LC telkom. Jadi dapat
dikatakan bahwa diklat ini adalah sosialisasi
dari apa yang ada di Bkd-Bantaeng, dengan
harapan tentunya BKd-bkd yang lain mengikutinya.

Saya mencoba memberi kesan dan pesan pada diklat
ini, yang meliputi hubungan bkn dgn bkd, telkom
sendiri dengan koneksinya, aplikasi simpeg
yang direkomendasikan oleh bkn, dan suasana
suasana diklat sendiri. Tentunya kesan
dan pesan ini saya usahakan senetral mungkin
dari sudut pandang seorang PNS yang sedikit mengerti
masalah IT dan pemrograman, paling tidak akan
berisi unek-unek saya pribadi

*1* (IMHO) Tujuan sebenarnya dari simpeg
online ini adalah bagaimana supaya data yang
ada di bkd kab kota itu sama dengan data yang
ada di bkn.

*2* Sepengetahuan saya, masalah kenaikan pangkat,
pensiun, dsb itu semua sepengetahuan BKN, atau
boleh dikatakan bkn yang meng-‘iya’kan apakah
seorang pns akan naik pangkat atau pensiun,tapi
ternyata semua data-data pns dari gowa dan kab.
lain tidak ada yg terupdate. Ini dibuktikan
dengan masih adanya pns yg sudah pensiun
dan pns dgn pangkat lama pada daftar nominatif
pns yg dikirimkan ke bkd kab kota (sehubungan
dengan perubahan nip). BKD kab kota disuruh online,
baru bkn sendiri tidak online, kasihan….

*3* Jadi untuk sementara (point 1 & 2) saya boleh
mengatakan bahwa yang seharusnya pekerjaan bkn
dilimpahkan ke bkd kab kota dalam hal ini
mengupdate data pns. Yang fatalnya adalah biaya
untuk mengupdate ini dibebankan kepada bkd
kab kota (bkn, maaf yaa..), tunggu….. ada lagi nantinya
yang lebih fatal.

*4* Koneksi yang dipakai adalah leased-line vpn dari
Telkom. Apakah ini yang paling efektif dan efisien?
Saya sudah coba tanyakan ke pemateri Telkom,
katanya ini yang paling bagus,
kalo menggunakan Internet katanya tidak aman,
apa iyaa? Buktinya layanan bangking sudah menggunakan
internet, transaksi bursa, valas, kpu, dll yang
datanya jauh lebih berharga. Lagian siapa sih
yang mau utak atik data2 pegawaiku, karna saya tetap
punya bukti fisik di rumah.
Database honorer juga ada di Internet http://www.bkn.go.id,
padahal database ini perlu lebih secure, paling tidak
untuk saat ini.

Juga ditambahkan oleh pemateri telkom, kalo pake
Internet tidak akan jalan dengan baik.
Jelasmi aplikasi simpeg bkn tidak akan jalan di internet,
karna kebutuhan bandwidth nya besar, simpegnya
bkn-kan dibangun dari Visual BAsic 6 + Sql server.
Bisa diibaratkan dengan ‘jalanan’ yang harus menyesuaikan
dengan ‘mobil truk kontainer’, di mana mobilnya
sudah jadi duluan.

Dan perlu juga diketahui bahwa koneksi bkd kab kota
ke bkn frekuensinya tidaklah sebanyak banking atau
semisal travel ke maskapai. Sedangkan koneksi telkom,
pakai tidak pakai harus tetap dibayarkan.
Layanan dari koneksi telkom ini juga sangat minim,
paling tidak plus koneksi internet sajalah, nyatanya tanpa Internet.
Jadi kenapa mesti koneksi bkd-bkn harus menggunakan
koneksi yang harganya mahal?

Biaya untuk aktifasi : Rp. 3.150.000,-. (1x bayar)
Biaya abodemen : sekitar Rp. 3.800.000,- / bln.
Biaya koneksi bkn-telkom= Rp. sekitar Rp.3,8juta juga,
yg akan ditanggulangi oleh bkd kab kota bersama.
Jadi kab. bantaeng sekarang biayanya sekitar 7,6juta perbulan,
ini semua belum termasuk ppn 10%.
Katanya biaya ini jauh dekat sama saja.
Lucunya, kenapa biaya bkn-telkom dibebankan ke bkd
kab kota, kenapa tidak ditanggung sendiri oleh bkn?
Sehubungan point.3 di atas, inilah yg lebih fatal dan lucu:
bkn yg mau mengupdate datanya,
kerja itu dilimpahkan ke bkd kab kota,
biayanya ditanggung oleh bkd kab kota,
biaya yang seharusnya dikeluarkan bkn juga
dibebankan ke bkd kab kota, so… bkn mo enaknya saja.
Sudah capek kasihan, ada apa2 masalah data
maka selalu bkd kab kota yang disalahkan.
Di kantor, beli mouse, iuran bulanan, dll saja
dibutuhkan kesabaran yg lumayan, apalagi ini yg Rp 7jt/bln.

*5* Berapa biaya yg dibutuhkan oleh satu BKD untuk
terkoneksi ke bkn kanreg-iv???
Lebih Rp. 350jt!!! uangji ini????
BKD selayar sdh disurvei, dan biaya keseluruhan untuk
pembangunan adalah lebih dr Rp.360jt.
Itu belum termasuk iuran bulanan.
Bagaimana lagi dengan supportnya?
Jelas jika ada masalah atau update, maka bkd yg harus
tanggung transportasi dan akomodasi staf bkn,
bagaimana kalo staf nya di datangkan langsung
dari jakarta?

*6* Biaya dari sisi legalitas.
Semua aplikasi dan tools yg dipakai oleh bkn adalah
aplikasi tertutup alias berbayar. Mulai dari server
yg menggunakan windows server, windows xp,
visual basic 6, sql server, dll. Bisa2 menghabiskan
seratusan juta untuk legalitas saja, tapi
bisa saja sih Rp. 0 asal tahan tebal muka sebagai
lembaga resmi.

*7* Aplikasi simpeg yg dibawakan BKN.
Saya tidak bisa bayangkan kalo ini yg diimplementasikan
di bantaeng, tapi katanya inilah yg dipakai di bantaeng.
Terus terang, dibandingkan dgn simpeg saya, masih jauh
lebih bagus simpeg saya yg berbasis web, kekurangan
simpeg saya hanya layanan kenaikan pangkatnya
yang belum selesai. Tapi kekurangan simpeg bkn yg
didiklat ini, banyak sekali. Sampai-sampai jadi
bahan gunjingan oleh teman2 peserta yg lain.
Contoh yg sederhana, misal untuk seleksi pegawai,
bisanya hanya untuk satu kriteria saja, mis.
seleksi pangkat/gol. III/a saja,
kalo mau yang III/a dan perempuan? tidak bisa!
apalagi kalo yg III/a, perempuan dan masih gadis???
Ini fakta real kasihan, tidak bohong!

Ada pernyataan dari pemateri Jakarta:
“kita punya juga simpeg berbasis web dengan database
oracle, sehingga biayanya lebih mahal dibanding dengan
simpeg yang ini (sekarang didiklatkan)”. Saya anggap ini
pernyataan yang menyesatkan, kenapa bisa lebih mahal?
Dari mana perhitungannya?
Mas!, jangan cuman lihat Oracle-nya, tapi coba lihat
bandwidth yang dibutuhkan, lihat juga maintenance
jangka panjangnya, lihat juga biaya pengembangannya, dll.
Mungkin masih banyak yg menganggap PNS daerah itu
malas membaca dan gagap teknologi,
itu sudah paradigma lama bung!

*8* Suasana diklat.
Masalah mulai terasa panas pada saat instalasi
program, di mana ada beberapa yg tidak mau terinstall
di notebook yg dibawa peserta. Koneksi dengan ping
semuanya ok tanpa masalah, tapi pas koneksi dengan
sharing file…. ternyata hanya sebagian yg konek,
yang lainnya konak alias gagal. Padahal tanpa disadari
oleh mereka bahwa sudah melewati batas maksimum
user lisensi dari OS windows servernya.
Saya hanya bisa berbisik ke teman di samping.

Saya jadi kasihan sama pemateri, kewalahan skali,
sampai teman2 sepertinya kasihan dan malasmi bertanya,
karna begitu banyak nya kekurangan dari aplikasinya.
Salah satu yg sempat membuat semua peserta ketawa besar
adalah pada saat input pasangan suami/istri, di mana
semua orang pasangannya namanya “Syamsir”, termasuk
pegawai laki2 juga pasangannya namanya Syamsir,
(maaf) pns banyak gay kali….???
Jadi para pemateri sibuk sendiri, semua peserta juga
sibuk sendiri, termasuk saya yg sedang membuat
tulisan ini.

*9* PeLayanan dari panitia bkn-kanreg IV lumayan memuaskan,
orang2nya stia-lan juga bagus2. Makanan lebih bagus lagi
servicenya. Kekurangannya, tidak ada air minum di luar kamar
disiapkan, sepertinya masalah air minum latobang lebih ok.
Kekurangan lain, beberapa kamar tidak ada tirai
jendelanya. Kalo malam, maka kita akan terlihat dari luar,
untungnya saya di lantai tiga, sehingga kalo tidur bisa leluasa
melihat langsung bintang2 di langit. Bagaimanami dengan
tetangga kamar yang jendelanya berhadapan langsung dengan
kuburan cina dan juga tanpa tirai??? Hiiiiii…..

ini saja dulu deh sementara, lain kali bisa ditambahkan.
………

Saran:
#1# Sebagai PNS, sy sarankan bkd gowa ‘wait & see’
saja dulu, tunggu kabar dr bkd-bantaeng hingga bulan
desember nanti. Jelas untuk kenaikan pangkat
oktober 2008 ini, bkn dan telkom akan habis2an
fokus memperbaiki troble-error aplikasi dan koneksi.

#2# Sebagai pribadi saya sarankan tidak usah ikut
simpeg bkn,
cukup apa yg ada diperbaiki, rutin rekab database
dan dikirimkan ke bkn kanreg iv.
Kan tujuannya bagaimana supaya data bkd sama dgn bkn.
masalah konversi datanya, itu urusan IT bkn.
Ini juga pendapat pribadi salah seorang karyawan BKN.

About these ads

Responses

  1. Kalo saya tahunya simpeg ya cuma liat datanya aja…
    ndka tau ada apa di baliknya..

    salam kenal.

  2. anda baru, kita bkd gorontalo udah dari taon 2006 installnya, eh masalah baru ketahuan belakangan. gak bisa bikin laporan statisik semau ‘gue’… semisal PNS gol III pria atau memilah BUP fungsional guru sama fungsional umum, semua dipukul rata 56 taon. pas kita minta perbaikan katanya masih sibuk sampe taon sekarang. duh gimana lagi ya?

    kita udah nyoba ngomong ke kepala bkd untuk pake simpeg versi web tapi gak nyambung, udah kena sihir kali ama simpeg bkn (reg IV)

  3. pak Admin dari Gorontalo,
    saya pernah ke Gorontalo,
    Di bkd gorontalo kota/kab?

    Jadi skarang di bkd Anda pake apa
    untuk informasi data kepegawaiannya?

    • @admin,
      ada kenalan saya di bkn reg xi, nanti saya coba cari2 info darinya.

  4. wah saya pernah liat demonya pelayanan SK Kenaikan Pangkat. Padahal operatornya adalah g bikin program itu. N LOL banyak errornya.

    Saya juga nanya kenapa ga berbasis web aja.

    Harganya segitu?? pas sosialisasi maren katanya gratis. Ga tau juga mungkin yg dimaksud gratis itu adalah satu modul. Tambah fasilitas ya tambah lagi. N kita tergantung ma BKN.

    Gimana kalo kita coba bikin komunitas simpeg opensource. Jad ga tergantung ma BKN

    • @pradita,
      ym saya ada di yamintola.
      silahkan jika ada masalah dgn skripsi Anda.

  5. ya, begitulah BKN/PNS pusat (???)

  6. terima kasih banyak kepada temen-temen semua. Mudah-mudahan tulisan ini dapat menajadi bahan pertimbangan bagi pimpinan kami di jawa barat.

  7. i am gonna show this to my friend, bro

  8. gimana ya… tempat aku mo dijadikan pilot project di Jatim. Siap2 puyeng dah

  9. Analisis dan desainnya gimana ini, kok platformnya ga web based….
    BKD kota/kab /prop kan ratusan … jarak ke bkn pun jauh…
    Akhirnya cost koneksi jadi muaaaaahal banget…..
    dan belum tentu lebih cepat..
    Mohon penjelasan dari pegawai BKN ??????

  10. skrg kita (di gorontalo) udah gak pake lagi versi VB-nya BKN reg IV, kita udah ke BKN reg. XI Manado… katanya sih mo pake yg web-based, cuma BKN reg XI kan baru, jadi blom siap … ntar siap aja katanya.. kapan ya?

  11. salam kenal aj….

    wah saya baca tulisan anda tentang simpeg bagus sekali…he..he..
    saya skrng sedang menulis skripsi tentang simpeg juga….
    tapi saya masih kurang paham apa saja yg harus saya persiapkan untuk membangun simpeg tersebut….hehehehh..

    sekiranya anda bersedia, saya minta alamt ym anda supaya saya bisa berkonsultasi….

    terima kasih

  12. Salam Kenal…

    Membaca tulisan anda mengingatkan saya pada pengalaman saya sendiri.

    saya juga seorang PNS yang ditugaskan mengurusi masalah yang terkait dengan sistem informasi (teman2 bilang “admin”, tp terlalu canggih buat saya….)

    Sekarang saya dipusingkan dengan “perintah” atasan untuk mengganti sistem yang sekarang sdh berjalan dengan baik. Sementara sistem penggantinya masih belum sempurna.

    Cuma karena seorang PNS harus taat perintah atasan jadi mau nda mau kasian…. pusing lagi kodong…

  13. setuju dengan pak Yamin. Untuk efektifnya semua harus diganti ke open source dan web based ;)

  14. halo Salam kenal pak yamin,
    saya dodi dari BKD Bukittinggi.
    Pertama kali lihat tampilan aplikasi SAPK, kok kesan nya kurang profesional ya, apalagi proses nya juga berbelit -belit. Sebagai orang yang sedikit tahu programming, dan juga kita disini Simpeg nya pakai VB6 , kita dapat kesan programmer di BKN ngak serius bikin nya, plus akses nya lamaaaaaa kali.

  15. yah begitulah Birokrat kita. pembinaan kemampuan/ketrampilan dibidang TI belum terarah dan terkoordinasi dengan baik. padahal ada instansi pembina jab fung pranata komputer lho. koq diem aja lah … welwh welwh kerjaaanya apa. Depkominfo (Menkominfo) beberapa tahun silam mencanangkan gerakan IGOS -Indonesia Go Open Source. mbok yaaaa dihimbau dong, agar aplikasi yang dibuat berbasis Open source. Html, PHP, Css, dll khan gratis .. tis. Database MySQl, ada juga Postgre. Web Server Apache. semuanya gratis. BKN bikin, terus distribusikan ke tiap BKD Kota/Kab sekalian ama kamopi juga gpp. BKD update data, kirim database nya saja (SQL Dump). setelah diterima oleh BKN, dump lagi (import). Gampang khan. Pejabat kita sudah pada Lansia semua, ilmu dah kadaluarsa. berteori pinter … tapi yaa ga nyambung. jadi susah di ajak Maju … apalagi SSssszztt (pegimana kata Rekanan TI nya). wah Nasib bangsaku negeriku tanah airku.
    SQL Dump tinggal kirim via email selesai khan. tapi akh UUD Jepe Jigo susah lah. Mending diem aja, daripada di Mutasi ke tempat yang jauh … berat di ongkos. NIP = Nerimo Ing Pandu.


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: